Apa Itu TOD (Transit-Oriented Development)?

Daftar Isi

Banyak kota besar menghadapi masalah yang sama:

Sistem transportasi publik sudah tersedia, tetapi masyarakat tetap lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi.

Stasiun kereta, halte bus, atau terminal transportasi sering kali berdiri terpisah dari aktivitas kota di sekitarnya. Permukiman, kawasan komersial, dan pusat perkantoran berkembang tanpa keterkaitan yang kuat dengan simpul transportasi tersebut.

Akibatnya, perjalanan menuju transportasi publik justru tetap membutuhkan kendaraan.

Situasi ini membuat mobilitas perkotaan menjadi kurang efisien. Kemacetan meningkat, penggunaan kendaraan pribadi terus bertambah, sementara potensi transportasi publik tidak sepenuhnya dimanfaatkan.

Untuk menjawab tantangan tersebut, banyak kota di berbagai negara mulai menerapkan konsep Transit-Oriented Development (TOD). Pendekatan ini telah diterapkan di berbagai kota dunia, seperti Nagoya di Jepang maupun Seoul di Korea Selatan, yang mengembangkan kawasan perkotaan dengan transportasi publik sebagai pusat aktivitas.

Secara sederhana, Transit-Oriented Development merupakan pendekatan perencanaan kawasan yang menempatkan transportasi publik sebagai pusat pengembangan kota. Dalam konsep ini, berbagai aktivitas seperti hunian, perkantoran, kawasan komersial, hingga ruang publik dirancang berada dalam jarak berjalan kaki dari simpul transportasi.

Dengan cara ini, perjalanan masyarakat tidak lagi bergantung pada kendaraan pribadi, tetapi dapat dilakukan dengan berjalan kaki, bersepeda, atau menggunakan transportasi massal.

Di Indonesia, konsep ini mulai terlihat pada pengembangan beberapa kawasan transit. Salah satunya TOD Dukuh Atas di Jakarta, yang mengintegrasikan MRT, KRL, TransJakarta, dan kereta bandara dalam satu kawasan mobilitas perkotaan.

Namun sebenarnya, apa yang dimaksud dengan Transit-Oriented Development, dan bagaimana konsep ini bekerja dalam perencanaan kota modern?

Apa Itu Transit-Oriented Development (TOD)?

Transit-Oriented Development (TOD) adalah pendekatan perencanaan kota yang mengembangkan kawasan dengan transportasi publik sebagai pusat aktivitas utama. Dalam konsep ini, berbagai fungsi kota seperti hunian, perkantoran, area komersial, dan fasilitas publik ditempatkan dalam jarak yang dapat ditempuh dengan berjalan kaki dari simpul transportasi massal.

Tujuan utama dari TOD adalah menciptakan kawasan yang memungkinkan masyarakat mengakses berbagai aktivitas sehari-hari tanpa harus bergantung pada kendaraan pribadi. Dengan demikian, mobilitas kota dapat lebih mengandalkan transportasi publik, berjalan kaki, dan bersepeda.

Dalam banyak perencanaan kota, kawasan TOD biasanya dirancang dengan radius berjalan kaki sekitar 400 hingga 800 meter dari stasiun atau halte transportasi. Jarak ini dianggap sebagai jarak yang masih nyaman ditempuh dengan berjalan kaki oleh sebagian besar pengguna.

Selain jarak yang dekat dengan simpul transit, kawasan TOD juga memiliki beberapa karakteristik lain, seperti:

  • jalur pedestrian yang terhubung dan nyaman
  • konektivitas jaringan jalan yang baik
  • campuran fungsi kawasan seperti hunian, perkantoran, dan area komersial
  • ruang publik yang mendukung aktivitas pejalan kaki

Melalui pendekatan tersebut, transportasi publik tidak hanya berfungsi sebagai sarana mobilitas, tetapi juga menjadi penggerak utama struktur perkembangan kawasan kota.

Dalam praktiknya, konsep TOD sering digunakan sebagai strategi untuk mengurangi kemacetan, meningkatkan penggunaan transportasi massal, serta menciptakan lingkungan perkotaan yang lebih efisien dan ramah bagi pejalan kaki.

Mengapa Konsep TOD Menjadi Penting dalam Perencanaan Kota

Pertumbuhan kota yang bergantung pada kendaraan pribadi sering menimbulkan berbagai masalah, seperti kemacetan, polusi udara, dan penggunaan lahan yang tidak efisien.

Konsep TOD hadir sebagai salah satu pendekatan untuk mengatasi masalah tersebut dengan cara mengintegrasikan transportasi publik dan pengembangan kawasan.

Beberapa tujuan utama pengembangan TOD antara lain:

  • mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi
  • meningkatkan penggunaan transportasi publik
  • menciptakan lingkungan kota yang lebih ramah pejalan kaki
  • memanfaatkan lahan perkotaan secara lebih efisien

Melalui pendekatan ini, perjalanan masyarakat dapat dilakukan dengan lebih singkat dan efisien karena berbagai aktivitas kota berada dalam jarak yang lebih dekat dengan sistem transportasi massal.

Karakteristik Kawasan Transit-Oriented Development

Kawasan yang menerapkan konsep Transit-Oriented Development (TOD) umumnya memiliki sejumlah karakteristik yang membedakannya dari pola pembangunan kota konvensional. Karakteristik ini berkaitan dengan bagaimana kawasan dirancang agar aktivitas masyarakat dapat terhubung dengan sistem transportasi publik secara lebih efisien.

fasilitas pejalan kaki pada kawasan TOD transit oriented development
Fasilitas pedestrian menjadi elemen penting dalam pengembangan kawasan TOD

Berikut beberapa ciri utama kawasan TOD dalam praktik perencanaan kota.

1. Berpusat pada Simpul Transportasi

Dalam kawasan TOD, stasiun atau halte transportasi publik menjadi pusat aktivitas kawasan. Berbagai fungsi kota seperti hunian, perkantoran, pusat komersial, hingga ruang publik berkembang di sekitar simpul transit tersebut.

Dengan struktur ini, transportasi publik menjadi bagian utama dari mobilitas kawasan, bukan sekadar fasilitas tambahan.

2. Dapat Diakses dengan Berjalan Kaki

Sebagian besar aktivitas di kawasan TOD dirancang berada dalam radius berjalan kaki dari stasiun, biasanya sekitar 400 hingga 800 meter. Jarak ini memungkinkan masyarakat untuk mencapai simpul transportasi dengan berjalan kaki dalam waktu sekitar 5–15 menit.

Karena itu, kualitas jalur pedestrian menjadi faktor yang sangat penting dalam keberhasilan kawasan transit.

Penjelasan lebih lengkap mengenai standar fasilitas pejalan kaki dalam kawasan transit dapat dibaca pada artikel berikut:

Kriteria Fasilitas Pejalan Kaki pada Kawasan TOD yang Layak

3. Memiliki Konektivitas Kawasan yang Baik

Kawasan TOD biasanya memiliki jaringan jalan dan jalur pedestrian yang saling terhubung. Konektivitas ini memudahkan pejalan kaki untuk bergerak dari berbagai titik aktivitas menuju simpul transportasi tanpa harus memutar terlalu jauh.

Jaringan jalan yang lebih terhubung juga membantu menciptakan perjalanan yang lebih efisien bagi pengguna transportasi publik.

4. Mengintegrasikan Berbagai Fungsi Kota

Salah satu karakteristik penting kawasan TOD adalah campuran fungsi kawasan (mixed-use development). Hunian, perkantoran, pusat komersial, serta fasilitas publik berada dalam satu kawasan yang saling terhubung.

Campuran fungsi ini membuat kawasan tetap aktif sepanjang hari dan mendorong masyarakat untuk berjalan kaki antara berbagai aktivitas.

5. Mendukung Mobilitas Tanpa Kendaraan Pribadi

Kawasan TOD dirancang untuk mengurangi ketergantungan terhadap kendaraan pribadi. Hal ini dicapai melalui berbagai strategi seperti peningkatan akses transportasi publik, penyediaan jalur pedestrian yang nyaman, serta pengembangan fasilitas sepeda.

Dengan demikian, perjalanan dalam kawasan dapat dilakukan dengan lebih efisien tanpa harus bergantung pada kendaraan bermotor.

Prinsip Dasar Transit-Oriented Development

Untuk memastikan pengembangan kawasan transit benar-benar mendukung mobilitas perkotaan yang efisien, berbagai lembaga perencanaan kota merumuskan sejumlah prinsip dasar dalam penerapan Transit-Oriented Development.

Salah satu kerangka yang banyak digunakan dalam perencanaan kota adalah 8 Prinsip TOD yang diperkenalkan oleh ITDP (Institute for Transportation and Development Policy).

Prinsip-prinsip ini memberikan panduan bagaimana kawasan kota dapat dirancang agar transportasi publik, mobilitas pejalan kaki, dan struktur penggunaan lahan dapat saling terintegrasi.

Secara umum, delapan prinsip tersebut meliputi:

  • Walk – menciptakan lingkungan yang ramah bagi pejalan kaki
  • Cycle – menyediakan fasilitas yang mendukung mobilitas bersepeda
  • Connect – membangun jaringan jalan dan jalur pedestrian yang terhubung
  • Transit – mengintegrasikan kawasan dengan sistem transportasi massal
  • Mix – mengembangkan campuran fungsi kawasan seperti hunian, komersial, dan fasilitas publik
  • Densify – meningkatkan kepadatan aktivitas di sekitar simpul transit
  • Compact – menciptakan struktur kawasan yang efisien dan mudah diakses
  • Shift – mendorong peralihan mobilitas dari kendaraan pribadi ke transportasi publik

Setiap prinsip tersebut memiliki peran penting dalam membentuk kawasan transit yang efektif dan berkelanjutan.

Penjelasan lebih lengkap mengenai masing-masing prinsip dapat dibaca pada artikel berikut:

8 Prinsip TOD dalam Perencanaan Kota

Contoh Kawasan TOD di Indonesia

Seiring berkembangnya sistem transportasi publik di beberapa kota besar, konsep Transit-Oriented Development (TOD) mulai diterapkan dalam pengembangan kawasan perkotaan di Indonesia.

Pendekatan ini umumnya dilakukan pada kawasan yang memiliki simpul transportasi penting seperti stasiun kereta, halte BRT, atau integrasi beberapa moda transportasi dalam satu area.

Berikut beberapa contoh kawasan yang mulai menerapkan konsep TOD.

TOD Dukuh Atas – Jakarta

kawasan tod dukuh atas jakarta
Kawasan TOD Dukuh Atas Jakarta. Gambar: By Fikri RA – Own work, CC BY-SA 4.0

Salah satu contoh kawasan TOD yang paling dikenal di Indonesia adalah Dukuh Atas di Jakarta. Kawasan ini dirancang sebagai simpul integrasi berbagai moda transportasi seperti MRT Jakarta, KRL Commuter Line, TransJakarta, serta kereta bandara.

Pengembangan kawasan ini bertujuan menciptakan mobilitas perkotaan yang lebih efisien dengan mengintegrasikan transportasi publik, jalur pedestrian, serta ruang publik dalam satu kawasan.

Baca juga: Apakah TOD Dukuh Atas Bisa Diterapkan di Kota Lain?

Kawasan MRT Jakarta

Beberapa kawasan di sepanjang koridor MRT Jakarta juga mulai dirancang dengan pendekatan TOD, seperti Lebak Bulus dan Blok M.

Pengembangan kawasan di sekitar stasiun MRT ini bertujuan meningkatkan aksesibilitas transportasi publik sekaligus mendorong aktivitas perkotaan yang lebih terpusat.

Kawasan Stasiun Kereta Cepat Tegalluar – Bandung

Pembangunan kereta cepat Jakarta–Bandung juga membuka peluang pengembangan kawasan transit di sekitar Stasiun Tegalluar. Kawasan ini direncanakan menjadi salah satu pusat aktivitas baru yang terintegrasi dengan sistem transportasi regional.

Pengembangan kawasan transit seperti ini menunjukkan bahwa konsep TOD mulai menjadi bagian penting dalam strategi pembangunan kota di Indonesia.

Peran Infrastruktur Kawasan dalam Mendukung Pengembangan TOD

Dalam praktik perencanaan kota, penerapan konsep Transit-Oriented Development tidak hanya berkaitan dengan pembangunan sistem transportasi massal. Keberhasilan kawasan transit juga sangat dipengaruhi oleh kualitas infrastruktur kawasan yang mendukung mobilitas pejalan kaki menuju simpul transportasi.

Akses menuju stasiun atau halte harus dirancang agar dapat ditempuh dengan berjalan kaki secara aman, nyaman, dan mudah diakses oleh berbagai pengguna. Hal ini mencakup penyediaan jalur pedestrian yang terhubung, fasilitas penyeberangan yang aman, hingga ruang publik yang mendukung aktivitas berjalan kaki di sekitar kawasan transit.

Selain itu, berbagai elemen infrastruktur kawasan juga menjadi bagian penting dalam membentuk lingkungan pedestrian yang nyaman, seperti:

  • sistem penerangan jalur pejalan kaki
  • pembatas trotoar yang melindungi pedestrian dari kendaraan
  • bangku atau kursi taman sebagai fasilitas istirahat
  • tempat sampah publik untuk menjaga kebersihan kawasan
  • elemen drainase yang menjaga jalur pedestrian tetap kering saat hujan

Elemen-elemen tersebut membantu menciptakan ruang kota yang lebih tertata sekaligus mendukung aktivitas berjalan kaki menuju transportasi publik.

Sebagai produsen infrastruktur kawasan, Futake Pedestrian menyediakan berbagai elemen street furniture yang banyak digunakan dalam proyek penataan jalur pedestrian, taman kota, dan ruang publik perkotaan.

Produk-produk tersebut dirancang untuk mendukung kualitas ruang pejalan kaki sekaligus membantu menciptakan lingkungan kota yang lebih aman, tertata, dan nyaman bagi aktivitas masyarakat.