Ketika kawasan Dukuh Atas di Jakarta mulai dikembangkan sebagai kawasan Transit-Oriented Development (TOD), perubahan yang terlihat bukan hanya pada kehadiran stasiun MRT atau integrasi berbagai moda transportasi.
Yang justru menjadi perhatian adalah bagaimana ruang kota di sekitar simpul transit mulai dirancang ulang. Trotoar diperlebar, jalur pejalan kaki diperbaiki, konektivitas antar moda ditingkatkan, dan ruang publik di sekitar stasiun dibuat lebih ramah bagi pejalan kaki.
Contoh ini menunjukkan bahwa keberhasilan kawasan transit tidak hanya ditentukan oleh sistem transportasi massal itu sendiri, tetapi juga oleh bagaimana kawasan di sekitarnya dirancang.
Jika lingkungan sekitar stasiun tidak mendukung mobilitas pejalan kaki, masyarakat tetap akan bergantung pada kendaraan untuk menjangkau transportasi publik.
Karena itu, dalam praktik perencanaan kota modern, pengembangan kawasan transit biasanya mengikuti kerangka yang lebih sistematis. Salah satu yang paling banyak digunakan adalah delapan prinsip Transit-Oriented Development (TOD) yang dirumuskan oleh Institute for Transportation and Development Policy (ITDP).
Prinsip-prinsip ini menjadi acuan dalam merancang kawasan transit yang tidak hanya terhubung dengan transportasi publik, tetapi juga mendukung mobilitas pejalan kaki serta aktivitas perkotaan yang lebih efisien.
Artikel ini membahas delapan prinsip TOD menurut ITDP dan bagaimana prinsip tersebut diterapkan dalam perencanaan kawasan perkotaan modern.
Apa Itu 8 Prinsip TOD menurut ITDP
Dalam kerangka yang dikembangkan oleh ITDP, Transit-Oriented Development tidak hanya dipahami sebagai pengembangan kawasan di sekitar stasiun transportasi publik.
Sebaliknya, TOD dipandang sebagai pendekatan perencanaan kawasan perkotaan yang mengintegrasikan transportasi publik dengan desain ruang kota, jaringan jalan, fungsi lahan, dan kualitas lingkungan pejalan kaki.
Untuk mewujudkan hal tersebut, ITDP merumuskan delapan prinsip utama yang menjadi acuan dalam merancang kawasan berbasis transit.
Kedelapan prinsip tersebut meliputi:
| Prinsip | Fokus Perencanaan |
|---|---|
| Walk | Menciptakan lingkungan yang ramah pejalan kaki |
| Cycle | Menyediakan infrastruktur sepeda yang aman |
| Connect | Membangun jaringan jalan yang terhubung |
| Transit | Mengintegrasikan kawasan dengan transportasi publik |
| Mix | Menghadirkan fungsi lahan campuran |
| Densify | Meningkatkan kepadatan kawasan secara terencana |
| Compact | Menciptakan kota yang lebih ringkas dan efisien |
| Shift | Mengurangi ketergantungan terhadap kendaraan pribadi |
Prinsip-prinsip ini menjadi dasar dalam merancang kawasan transit yang tidak hanya berfungsi sebagai titik perpindahan moda transportasi, tetapi juga sebagai lingkungan kota yang mendukung mobilitas pejalan kaki dan aktivitas perkotaan secara lebih optimal.
Walk – Menciptakan Lingkungan Kota yang Ramah Pejalan Kaki
Prinsip Walk menempatkan pejalan kaki sebagai elemen utama dalam perancangan kawasan TOD. Sebagian besar perjalanan menuju simpul transit biasanya berada dalam jarak berjalan kaki, sehingga kualitas lingkungan pedestrian menjadi faktor yang sangat menentukan keberhasilan kawasan transit.

Karena itu, kawasan TOD perlu dirancang dengan jalur pejalan kaki yang nyaman, aman, dan terhubung dengan berbagai fungsi kota seperti hunian, area komersial, maupun fasilitas publik.
Pembahasan lebih lengkap mengenai kriteria teknis fasilitas pedestrian dapat dibaca pada artikel berikut:
Dengan lingkungan pedestrian yang baik, kawasan transit tidak hanya berfungsi sebagai titik perpindahan moda transportasi, tetapi juga menjadi ruang kota yang lebih mudah diakses oleh pejalan kaki.
Cycle – Mendukung Mobilitas Sepeda dalam Kawasan Transit
Selain berjalan kaki, prinsip Cycle dalam Transit-Oriented Development (TOD) menekankan pentingnya menyediakan infrastruktur yang mendukung penggunaan sepeda sebagai moda transportasi jarak pendek.

Sepeda sering menjadi penghubung antara kawasan hunian dengan simpul transportasi publik, terutama pada jarak yang sedikit lebih jauh dari radius berjalan kaki.
Karena itu, kawasan TOD umumnya dilengkapi dengan jalur sepeda yang aman serta fasilitas pendukung seperti area parkir sepeda di sekitar stasiun atau halte.
Dengan menyediakan infrastruktur sepeda yang memadai, kawasan transit dapat memperluas jangkauan akses menuju transportasi publik sekaligus mendorong mobilitas perkotaan yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
Connect – Membangun Jaringan Jalan yang Terhubung
Prinsip Connect menekankan pentingnya jaringan jalan yang saling terhubung sehingga pergerakan pejalan kaki, pesepeda, maupun kendaraan dapat berlangsung secara efisien.
Dalam kawasan TOD, jaringan jalan yang baik biasanya ditandai dengan blok kota yang relatif kecil dan banyak pilihan rute, sehingga perjalanan menuju stasiun atau halte dapat ditempuh melalui jalur yang lebih langsung tanpa harus memutar jauh.
Konektivitas yang baik juga membantu memperkuat hubungan antara kawasan transit dengan berbagai fungsi kota di sekitarnya, seperti kawasan hunian, area komersial, dan ruang publik. Dengan demikian, mobilitas menuju simpul transportasi menjadi lebih mudah dan waktu tempuh perjalanan dapat dipersingkat.
Transit – Mengintegrasikan Kawasan dengan Transportasi Publik
Prinsip Transit menekankan bahwa pengembangan kawasan harus terintegrasi langsung dengan sistem transportasi publik yang memiliki kapasitas tinggi, seperti MRT, LRT, BRT, maupun jaringan kereta komuter.

Dalam perencanaan TOD, simpul transit berfungsi sebagai pusat mobilitas yang menghubungkan berbagai aktivitas kota. Karena itu, akses menuju stasiun atau halte perlu dirancang agar mudah dijangkau melalui jalur pejalan kaki, sepeda, maupun moda transportasi pengumpan.
Integrasi yang baik antara kawasan dan sistem transportasi publik membantu meningkatkan penggunaan angkutan massal sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap kendaraan pribadi.
Mix – Menghadirkan Fungsi Lahan Campuran
Prinsip Mix menekankan pentingnya menghadirkan berbagai fungsi aktivitas dalam satu kawasan. Hunian, perkantoran, area komersial, serta fasilitas publik dirancang berada dalam jarak yang saling berdekatan sehingga aktivitas sehari-hari dapat diakses dengan mudah.
Dengan adanya fungsi lahan campuran, kawasan transit tidak hanya aktif pada jam-jam tertentu, tetapi dapat mendukung aktivitas sepanjang hari. Kondisi ini juga membantu mengurangi kebutuhan perjalanan jarak jauh karena berbagai kebutuhan masyarakat dapat dijangkau dalam satu kawasan.
Densify – Meningkatkan Kepadatan Kawasan secara Terencana
Prinsip Densify berkaitan dengan peningkatan kepadatan bangunan dan aktivitas di sekitar simpul transit. Kepadatan yang lebih tinggi memungkinkan lebih banyak orang tinggal, bekerja, atau beraktivitas dalam jarak dekat dengan transportasi publik.
Dalam konteks TOD, peningkatan kepadatan biasanya difokuskan pada area yang berada paling dekat dengan stasiun atau halte. Dengan demikian, transportasi publik dapat dimanfaatkan secara lebih optimal karena terdapat jumlah pengguna yang cukup besar di sekitarnya.
Compact – Menciptakan Kota yang Lebih Ringkas
Prinsip Compact menekankan pengembangan kota yang lebih efisien dan tidak menyebar terlalu luas. Kawasan dengan struktur yang lebih ringkas memungkinkan berbagai aktivitas kota berada dalam jarak yang lebih dekat satu sama lain.
Kondisi ini membantu mempersingkat jarak perjalanan sekaligus meningkatkan efisiensi penggunaan lahan perkotaan. Dengan kota yang lebih ringkas, mobilitas berbasis berjalan kaki, bersepeda, maupun transportasi publik menjadi lebih mudah diterapkan.
Shift – Mengurangi Ketergantungan pada Kendaraan Pribadi
Prinsip terakhir dalam TOD adalah Shift, yaitu mendorong peralihan dari penggunaan kendaraan pribadi menuju moda transportasi yang lebih berkelanjutan seperti berjalan kaki, bersepeda, dan transportasi publik.
Peralihan ini tidak hanya bergantung pada penyediaan transportasi massal, tetapi juga pada bagaimana ruang kota dirancang. Ketika kawasan transit menyediakan akses pedestrian yang baik, konektivitas yang tinggi, serta fasilitas publik yang memadai, masyarakat akan lebih terdorong untuk menggunakan moda transportasi selain kendaraan pribadi.
Dengan demikian, prinsip Shift menjadi tujuan akhir dari penerapan seluruh prinsip TOD, yaitu menciptakan sistem mobilitas perkotaan yang lebih efisien, inklusif, dan berkelanjutan.
Mengapa 8 Prinsip TOD Penting dalam Perencanaan Kawasan Transit?
Kedelapan prinsip TOD tersebut pada dasarnya membentuk sebuah kerangka perencanaan kawasan yang terintegrasi.
Prinsip Walk, Cycle, dan Connect berfokus pada bagaimana struktur ruang kota dirancang agar mobilitas jarak pendek dapat dilakukan dengan berjalan kaki atau bersepeda. Sementara itu prinsip Transit memastikan bahwa kawasan memiliki akses langsung terhadap sistem transportasi publik berkapasitas tinggi.
Di sisi lain, prinsip Mix, Densify, dan Compact berkaitan dengan struktur penggunaan lahan dan intensitas aktivitas kawasan. Kombinasi ketiga prinsip ini membantu menciptakan lingkungan perkotaan yang lebih hidup sekaligus mendukung penggunaan transportasi publik secara optimal.
Seluruh prinsip tersebut pada akhirnya bermuara pada prinsip Shift. Dimana ini mendorong perubahan pola mobilitas masyarakat dari kendaraan pribadi menuju transportasi publik serta moda transportasi yang lebih berkelanjutan.
Dengan kata lain, keberhasilan TOD tidak hanya ditentukan oleh keberadaan sistem transportasi massal, tetapi oleh bagaimana infrastruktur kawasan di sekitar simpul transit dirancang secara menyeluruh.
Dukungan Infrastruktur untuk Kawasan Pedestrian
Agar prinsip-prinsip TOD dapat diterapkan secara efektif, berbagai elemen infrastruktur kawasan perlu dirancang dengan spesifikasi yang tepat sejak tahap perencanaan.
Setiap komponen memiliki peran dalam membentuk lingkungan ruang publik yang aman dan nyaman bagi pejalan kaki. Mulai dari bangku pedestrian, penerangan jalur pejalan kaki, bollard pembatas trotoar, hingga sistem penutup drainase.
Futake Pedestrian menyediakan berbagai komponen infrastruktur kawasan yang dirancang untuk aplikasi ruang publik. Mulai dari area pedestrian perkotaan, ruang terbuka hijau, hingga kawasan transit.
Produk-produk tersebut dapat disesuaikan dengan kebutuhan desain kawasan maupun spesifikasi teknis proyek. Sehingga membantu mewujudkan lingkungan kota yang lebih ramah bagi pejalan kaki.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai spesifikasi produk dan kebutuhan proyek infrastruktur kawasan, Anda dapat menghubungi tim Futake Pedestrian.






