Dukuh Atas sering disebut sebagai contoh kawasan Transit-Oriented Development (TOD) di Indonesia.
Kawasan ini mempertemukan berbagai moda transportasi publik seperti MRT, KRL, LRT, hingga TransJakarta dalam satu area yang saling terhubung. Dengan integrasi transportasi yang kuat serta lokasi strategis di pusat bisnis Jakarta, Dukuh Atas kerap dijadikan referensi ketika membahas pengembangan kawasan berbasis transit di Indonesia.
Namun ketika ditinjau lebih jauh, muncul pertanyaan yang cukup menarik.
Apakah kawasan Dukuh Atas benar-benar sudah memenuhi prinsip TOD secara utuh?
Sejumlah studi menunjukkan bahwa meskipun kawasan ini telah memiliki integrasi transportasi yang baik dan jaringan jalur pejalan kaki yang cukup luas, masih terdapat berbagai tantangan dalam menciptakan lingkungan transit yang benar-benar ramah bagi pejalan kaki dan pengguna transportasi publik.
Tim Futake menyadur hasil penelitian dari:
Misalnya, kualitas konektivitas pedestrian yang belum sepenuhnya optimal, keterbatasan fasilitas pesepeda, hingga struktur jaringan jalan yang masih menyisakan blok kawasan dengan jarak yang relatif panjang.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa bahkan pada kawasan yang sering dianggap sebagai contoh TOD seperti Dukuh Atas, penerapan prinsip Transit-Oriented Development masih memerlukan berbagai penyempurnaan dalam aspek desain kawasan dan infrastruktur mobilitas.
Hal ini kemudian memunculkan pertanyaan yang lebih luas.
Jika kawasan TOD di pusat Jakarta saja masih menghadapi berbagai tantangan dalam implementasinya,
Apakah konsep TOD seperti Dukuh Atas benar-benar dapat diterapkan di kota lain di Indonesia?
Artikel ini membahas kemungkinan tersebut dengan melihat pengalaman pengembangan TOD Dukuh Atas sebagai studi kasus. Sekaligus mengkaji faktor-faktor apa saja yang perlu dipenuhi agar konsep kawasan berbasis transit dapat berhasil diterapkan pada konteks kota yang berbeda.
Mengapa Dukuh Atas Sering Disebut Contoh TOD di Indonesia
Kawasan Dukuh Atas sering disebut sebagai salah satu contoh awal penerapan konsep Transit-Oriented Development (TOD) di Indonesia. Hal ini terutama karena kawasan tersebut berfungsi sebagai simpul transportasi utama. Alias menghubungkan berbagai moda angkutan massal dalam satu area yang relatif terintegrasi.
Dalam radius yang relatif dekat, kawasan ini dilayani oleh beberapa moda transportasi publik sekaligus, antara lain:
- MRT Jakarta
- KRL Commuter Line
- LRT Jabodebek
- Railink Bandara
- Jaringan TransJakarta
Keberadaan berbagai moda tersebut membuat Dukuh Atas menjadi salah satu titik perpindahan moda transportasi paling penting di Jakarta.
Integrasi berbagai sistem transportasi ini merupakan salah satu prinsip utama dalam pengembangan TOD. Yaitu memastikan pengguna dapat berpindah antar moda transportasi dengan jarak berjalan kaki yang relatif pendek.
Selain aspek transportasi, kawasan Dukuh Atas juga memiliki karakteristik lain yang mendukung pengembangan kawasan berbasis transit.
Lokasinya berada di pusat kegiatan ekonomi Jakarta, dengan dominasi fungsi kawasan berupa perkantoran, perdagangan dan jasa, serta berbagai fasilitas publik. Kepadatan aktivitas ini menciptakan potensi pergerakan yang tinggi menuju kawasan transit.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga melakukan berbagai intervensi desain kawasan di area ini. Seperti pembangunan jalur pedestrian yang lebih luas dan ruang publik. Bahkan area integrasi antar stasiun yang bertujuan meningkatkan kenyamanan pengguna transportasi publik.
Melalui kombinasi antara integrasi transportasi, kepadatan aktivitas kawasan, serta peningkatan kualitas ruang publik, Dukuh Atas kemudian sering diposisikan sebagai contoh implementasi TOD di Indonesia.
Namun, keberhasilan tersebut tidak serta-merta berarti bahwa kawasan ini telah sepenuhnya memenuhi seluruh prinsip pengembangan Transit-Oriented Development.
Apakah Dukuh Atas Sudah Sepenuhnya Memenuhi Prinsip TOD?
Meskipun sering disebut sebagai contoh kawasan TOD di Indonesia, sejumlah kajian menunjukkan bahwa implementasi konsep tersebut di Dukuh Atas masih memiliki beberapa keterbatasan.
Salah satu temuan penting berkaitan dengan kualitas jaringan pedestrian.
Secara umum, jalur pejalan kaki di kawasan ini sudah tersedia di sebagian besar ruas jalan. Namun keberadaan trotoar saja belum tentu menjamin pengalaman berjalan kaki yang nyaman dan efisien bagi pengguna transportasi publik.
Pada beberapa titik, konektivitas jalur pejalan kaki masih belum sepenuhnya optimal, sehingga pergerakan menuju simpul transit belum selalu terasa langsung dan intuitif.
Selain itu, fasilitas pesepeda di kawasan ini juga masih terbatas. Padahal dalam banyak konsep TOD modern, sepeda menjadi moda penting yang mendukung akses menuju stasiun dalam radius yang lebih luas dibandingkan berjalan kaki.
Dari sisi struktur kawasan, beberapa studi juga mencatat bahwa panjang blok kawasan di sekitar Dukuh Atas masih relatif besar.
Blok yang terlalu panjang dapat mengurangi efisiensi rute berjalan kaki karena pejalan kaki harus memutar lebih jauh untuk mencapai tujuan tertentu.
Di sisi lain, keberadaan parkir kendaraan pribadi di sekitar kawasan juga masih cukup signifikan. Dalam prinsip TOD, ketersediaan parkir biasanya dibatasi agar masyarakat lebih terdorong menggunakan transportasi publik dibanding kendaraan pribadi.
Temuan-temuan tersebut menunjukkan bahwa meskipun Dukuh Atas telah berhasil membangun integrasi transportasi yang kuat, penerapan prinsip TOD secara menyeluruh masih memerlukan penyempurnaan, terutama pada aspek desain kawasan yang mendukung mobilitas pejalan kaki dan pesepeda.
Hal ini sekaligus memberikan pelajaran penting bahwa pembangunan TOD bukan hanya tentang menghadirkan transportasi massal. Tetapi juga tentang bagaimana kawasan di sekitarnya dirancang untuk benar-benar mendukung mobilitas berbasis transit.
Apakah Model TOD Dukuh Atas Bisa Diterapkan di Kota Lain?
Jawabannya: bisa, tetapi tidak bisa disalin mentah-mentah.
TOD Dukuh Atas berhasil berkembang karena beberapa kondisi kota Jakarta yang sangat spesifik. Ketika konsep ini ingin diterapkan di kota lain, terdapat sejumlah faktor yang perlu diperhatikan agar kawasan transit benar-benar dapat berfungsi.
Berikut beberapa faktor kunci yang menentukan apakah model seperti Dukuh Atas dapat diterapkan di kota lain.
1. Kepadatan Aktivitas Kawasan
Kawasan Dukuh Atas berada di pusat aktivitas kota yang memiliki konsentrasi:
- perkantoran
- kawasan komersial
- fasilitas publik
- hunian vertikal
Kepadatan aktivitas ini menciptakan permintaan perjalanan yang tinggi menuju transportasi publik.
Pada kota dengan kepadatan yang lebih rendah, pembangunan kawasan TOD biasanya perlu disertai dengan pengembangan fungsi kawasan seperti hunian, area komersial, atau ruang publik agar mobilitas transit benar-benar terbentuk.
2. Integrasi Moda Transportasi
Salah satu kekuatan utama Dukuh Atas adalah integrasi beberapa moda transportasi sekaligus, antara lain:
- MRT Jakarta
- KRL Commuter Line
- TransJakarta
- kereta bandara
- jaringan bus kota
Integrasi ini membuat kawasan transit berfungsi sebagai simpul mobilitas utama.
Di banyak kota lain, sistem transportasi publik masih terbatas pada satu moda saja. Kondisi ini membuat pengembangan TOD perlu disesuaikan dengan skala jaringan transportasi yang tersedia.
3. Kualitas Infrastruktur Pejalan Kaki
TOD pada dasarnya bergantung pada kemudahan berjalan kaki menuju simpul transit.
Karena itu, keberhasilan kawasan transit sangat dipengaruhi oleh kualitas infrastruktur pedestrian seperti:
- jalur trotoar yang nyaman dan terhubung
- sistem penyeberangan yang aman
- penerangan jalur pedestrian
- pembatas trotoar dari kendaraan
- fasilitas duduk dan ruang istirahat
Tanpa infrastruktur tersebut, masyarakat cenderung tetap menggunakan kendaraan untuk mencapai stasiun meskipun jaraknya relatif dekat.
4. Struktur Jaringan Jalan dan Blok Kawasan
Kawasan TOD ideal memiliki blok kota yang relatif pendek sehingga pejalan kaki dapat memilih berbagai rute menuju stasiun.
Sebaliknya, pada kota dengan blok kawasan yang terlalu besar atau jaringan jalan yang tidak terhubung, perjalanan menuju simpul transit bisa menjadi lebih jauh dan tidak efisien.
Hal ini menjadi salah satu tantangan yang sering muncul ketika konsep TOD diterapkan di kawasan perkotaan yang sudah berkembang sebelumnya.
5. Pengendalian Parkir Kendaraan
Dalam prinsip TOD, keberadaan parkir kendaraan biasanya dibatasi atau dikelola secara ketat.
Tujuannya adalah mendorong masyarakat untuk lebih memilih:
- berjalan kaki
- menggunakan sepeda
- atau memanfaatkan transportasi publik
Jika parkir kendaraan pribadi terlalu mudah diakses di sekitar stasiun, maka tujuan TOD untuk mengurangi ketergantungan terhadap kendaraan bermotor menjadi sulit tercapai.
Intinya
Pengalaman Dukuh Atas menunjukkan bahwa pembangunan TOD tidak hanya bergantung pada keberadaan stasiun transportasi massal.
Keberhasilan kawasan transit juga ditentukan oleh:
- struktur kawasan
- kualitas jalur pedestrian
- integrasi moda transportasi
- serta desain ruang publik di sekitarnya.
Karena itu, ketika konsep TOD diterapkan di kota lain, pendekatan yang digunakan biasanya bukan meniru kawasan yang sudah ada, tetapi menyesuaikannya dengan karakteristik kota dan kondisi infrastrukturnya.
Baca juga: 8 Prinsip Transit-Oriented Development
Pelajaran dari TOD Dukuh Atas bagi Kota Lain
Pengembangan kawasan Dukuh Atas memberikan sejumlah pelajaran penting bagi kota lain yang ingin menerapkan konsep Transit-Oriented Development. Pengalaman ini menunjukkan bahwa keberhasilan TOD tidak hanya bergantung pada keberadaan transportasi massal, tetapi juga pada desain kawasan di sekitarnya.
Berikut beberapa pelajaran utama yang dapat diambil.
| Aspek Perencanaan | Pelajaran dari TOD Dukuh Atas | Implikasi bagi Kota Lain |
|---|---|---|
| Integrasi Moda Transportasi | Dukuh Atas menghubungkan beberapa moda sekaligus seperti MRT, KRL, TransJakarta, dan kereta bandara dalam satu kawasan | Pengembangan TOD sebaiknya mengintegrasikan berbagai moda transportasi agar perpindahan penumpang menjadi lebih efisien |
| Infrastruktur Pejalan Kaki | Akses menuju simpul transit didukung jalur pedestrian yang cukup luas dan terhubung | Kota lain perlu memastikan trotoar, penyeberangan, dan jalur pejalan kaki dirancang sebagai bagian utama sistem mobilitas |
| Konektivitas Kawasan | Kawasan transit dirancang agar stasiun dapat dicapai dalam jarak berjalan kaki dari berbagai fungsi kota | Perencanaan kawasan perlu memperhatikan jarak tempuh pejalan kaki dan keterhubungan jaringan jalan |
| Campuran Fungsi Kawasan | Dukuh Atas memiliki kombinasi perkantoran, ruang publik, kawasan komersial, dan hunian | TOD akan lebih efektif jika kawasan transit memiliki aktivitas yang beragam sepanjang hari |
| Desain Ruang Publik | Area sekitar stasiun dilengkapi ruang publik, plaza, dan jalur pedestrian yang nyaman | Desain kawasan transit perlu memperhatikan kualitas ruang publik agar aktivitas berjalan kaki lebih menarik |
| Pengendalian Kendaraan Pribadi | Kawasan transit cenderung membatasi dominasi kendaraan pribadi di sekitar simpul transportasi | Kota lain perlu mengelola parkir dan lalu lintas agar mobilitas berbasis transit lebih diutamakan |
Kota Mana Saja di Indonesia yang Berpotensi Mengembangkan TOD?
Pengalaman pengembangan kawasan Dukuh Atas menunjukkan bahwa konsep Transit-Oriented Development tidak hanya relevan untuk Jakarta. Sejumlah kota di Indonesia sebenarnya memiliki potensi untuk mengembangkan kawasan berbasis transit, terutama pada lokasi yang memiliki simpul transportasi dengan aktivitas tinggi.
Potensi ini biasanya muncul pada kawasan yang memiliki stasiun kereta, terminal transportasi massal, atau simpul integrasi moda yang melayani pergerakan komuter dalam jumlah besar.
Berikut beberapa kota yang sering disebut memiliki peluang untuk mengembangkan kawasan TOD.
| Kota | Potensi Kawasan TOD | Faktor Pendukung |
|---|---|---|
| Jakarta | Dukuh Atas, Lebak Bulus, Blok M | Integrasi MRT, KRL, TransJakarta, dan jaringan bus kota |
| Bandung | Stasiun Bandung, Tegalluar (KCJB) | Keberadaan kereta cepat Jakarta–Bandung dan rencana pengembangan kawasan stasiun |
| Surabaya | Stasiun Gubeng, Pasar Turi | Kepadatan aktivitas kota dan jaringan kereta regional |
| Yogyakarta | Stasiun Tugu, Stasiun Lempuyangan | Aktivitas pariwisata tinggi dan mobilitas komuter |
| Semarang | Stasiun Tawang, Poncol | Kawasan kota lama dan aktivitas komersial di pusat kota |
| Medan | Stasiun Medan | Integrasi kereta bandara dan jaringan kereta regional |
| Makassar | Koridor kereta api Makassar–Parepare | Pengembangan sistem transportasi baru di kawasan metropolitan |
Namun penting untuk dipahami bahwa pengembangan TOD tidak hanya bergantung pada keberadaan stasiun. Kawasan di sekitarnya juga perlu dirancang agar mendukung mobilitas berjalan kaki menuju simpul transportasi.
Hal ini mencakup berbagai aspek seperti:
- jalur pedestrian yang nyaman dan terhubung
- fasilitas penyeberangan yang aman
- ruang publik di sekitar stasiun
- integrasi antar moda transportasi
Tanpa infrastruktur tersebut, kawasan transit berisiko hanya menjadi titik naik turun penumpang tanpa benar-benar mendorong mobilitas perkotaan yang lebih efisien.
Karena itu, pengalaman Dukuh Atas dapat menjadi referensi awal bagi kota lain di Indonesia dalam merancang kawasan transit yang tidak hanya terhubung dengan transportasi publik, tetapi juga ramah bagi pejalan kaki.
Dukungan Infrastruktur untuk Pengembangan Kawasan TOD
Pengalaman pengembangan kawasan seperti Dukuh Atas menunjukkan bahwa keberhasilan Transit-Oriented Development tidak hanya ditentukan oleh sistem transportasi massal. Tetapi juga oleh kualitas infrastruktur kawasan yang mendukung mobilitas pejalan kaki.
Ketika konsep TOD mulai diterapkan di kota lain, perencanaan kawasan biasanya diikuti dengan kebutuhan berbagai elemen infrastruktur pendukung, seperti:
- jalur pedestrian yang tertata dan terhubung
- sistem penerangan jalur pejalan kaki
- pembatas trotoar untuk meningkatkan keamanan pedestrian
- bangku taman sebagai fasilitas istirahat
- tempat sampah publik untuk menjaga kebersihan kawasan
- elemen drainase kawasan yang mendukung kenyamanan jalur berjalan
Elemen-elemen tersebut menjadi bagian penting dalam proyek penataan ruang publik di sekitar simpul transportasi.
Jika pengembangan kawasan TOD mulai diterapkan di berbagai kota di Indonesia, kebutuhan terhadap infrastruktur pedestrian dan street furniture yang berkualitas juga akan semakin meningkat sebagai bagian dari proyek penataan kawasan.
Sebagai produsen infrastruktur kawasan, Futake Pedestrian siap mendukung berbagai proyek pengembangan ruang publik dan jalur pedestrian dengan menyediakan beragam produk street furniture yang dirancang untuk kebutuhan kawasan perkotaan, seperti:
- Bollard pembatas trotoar
- Bangku taman
- Tempat sampah publik
- serta elemen infrastruktur kawasan lainnya.
Dengan pemilihan produk yang tepat, perencanaan kawasan transit dapat menghadirkan lingkungan yang lebih tertata, aman, dan nyaman bagi aktivitas pejalan kaki menuju simpul transportasi.
Attribusi gambar utama: By Fikri RA – Own work, CC BY-SA 4.0






